Mengenali Potensi Bonggol Jagung: Langkah Awal Pemanfaatan Limbah Pertanian sebagai Implementasi SDG 12 di Desa Lemahireng
Lemahireng, 4 Agustus 2026 — Bonggol jagung merupakan salah satu limbah pertanian yang cukup mudah ditemukan di wilayah Desa Lemahireng. Selama ini, bonggol jagung masih sering dipandang sebagai sisa hasil pertanian yang tidak memiliki nilai guna. Padahal, apabila dikelola dengan tepat, limbah tersebut memiliki potensi untuk dimanfaatkan kembali dan mendukung kegiatan pertanian masyarakat.
Melihat kondisi tersebut, mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Diponegoro melaksanakan kegiatan “Langkah Awal: Identifikasi Potensi Bonggol Jagung” di Desa Lemahireng. Program ini dilaksanakan oleh Tanaya Azalia Kalika Amarapuri, mahasiswa Program Studi Agribisnis, Fakultas Peternakan dan Pertanian, Universitas Diponegoro.
Kegiatan ini menjadi tahap awal untuk mengetahui kondisi serta potensi limbah bonggol jagung yang dihasilkan oleh masyarakat. Identifikasi dilakukan untuk memperoleh gambaran mengenai ketersediaan bonggol jagung sekaligus mengetahui sejauh mana masyarakat, khususnya petani dan kelompok tani, memahami potensi pemanfaatannya.
Proses pengumpulan informasi dilakukan melalui survei dan wawancara dengan petani serta kelompok tani di Desa Lemahireng. Melalui kegiatan tersebut, informasi mengenai pemanfaatan bonggol jagung yang selama ini dilakukan, jumlah atau ketersediaan limbah, serta pengetahuan masyarakat mengenai alternatif pengolahannya mulai dihimpun.
Hasil identifikasi kemudian digunakan untuk menyusun data potensi limbah bonggol jagung di Desa Lemahireng. Data tersebut menjadi informasi awal yang dapat digunakan untuk melihat peluang pengembangan dan pemanfaatan limbah pertanian secara lebih terarah.
Salah satu rekomendasi yang dihasilkan dari kegiatan ini adalah pemanfaatan bonggol jagung sebagai bahan baku pupuk organik. Pemanfaatan tersebut dapat menjadi alternatif untuk mengurangi limbah pertanian sekaligus mengembalikan sebagian potensi bahan organik ke dalam kegiatan pertanian masyarakat.
Lebih jauh, pemanfaatan bonggol jagung juga berpotensi memberikan nilai tambah apabila dikembangkan secara berkelanjutan. Limbah yang sebelumnya dianggap tidak bernilai dapat diarahkan menjadi bahan yang memiliki manfaat bagi kegiatan pertanian, sehingga membuka peluang terciptanya pengelolaan sumber daya yang lebih efisien.
Kegiatan “Langkah Awal: Identifikasi Potensi Bonggol Jagung” merupakan salah satu bentuk kontribusi terhadap Sustainable Development Goals (SDG) 12: Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab. Melalui identifikasi dan pemetaan potensi limbah pertanian, kegiatan ini mendorong masyarakat untuk melihat kembali sumber daya yang tersedia di lingkungan sekitar serta mengupayakan pemanfaatannya secara lebih bertanggung jawab dan berkelanjutan.
Identifikasi ini diharapkan menjadi langkah awal bagi pengembangan program pemanfaatan bonggol jagung di Desa Lemahireng. Dengan adanya data dan rekomendasi awal, kelompok tani dan masyarakat memiliki dasar untuk mengembangkan pengolahan limbah pertanian menjadi produk yang lebih bermanfaat bagi lingkungan maupun kegiatan pertanian desa.


No responses yet